“Dari Laptop ke Layar: Ketika Pelajar MA Magetan Merajut Kebinekaan Lewat Poster Digital”

Lomba Desain Poster Digital MADARIS CAMP FEST 2026 Kemenag Magetan mengajak pelajar MA se-Kabupaten Magetan menyuarakan kebinekaan melalui kreativitas desain dengan tema “Merajut Kebinekaan dalam Harmoni Madrasah”.

“Dari Laptop ke Layar: Ketika Pelajar MA Magetan Merajut Kebinekaan Lewat Poster Digital”

MAGETAN — Sebuah poster digital mungkin hanya berukuran 1080 × 1350 piksel. Namun di balik ukuran layar yang sederhana itu, ada ide, kreativitas, pesan, dan cara pandang generasi muda terhadap keberagaman.

Hal itulah yang terasa dalam Lomba Desain Poster Digital MADARIS CAMP FEST 2026 – Kementerian Agama Kabupaten Magetan. Mengangkat tema “Merajut Kebinekaan dalam Harmoni Madrasah”, lomba ini mempertemukan peserta dari berbagai Madrasah Aliyah (MA) di Kabupaten Magetan untuk menyampaikan gagasan mereka melalui bahasa visual.

Saya, Bayu Pebrianto W., mendapat kesempatan menjadi salah satu juri dalam lomba tersebut. Sebagai Andalan Kwarcab Magetan bidang IT sekaligus guru SMK jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), saya melihat lomba ini bukan sekadar tentang siapa yang paling jago menggunakan aplikasi desain.

Lebih dari itu, peserta ditantang menjawab satu pertanyaan sederhana:

“Bagaimana kamu menerjemahkan kebinekaan dan harmoni ke dalam sebuah karya visual yang bisa dipahami orang lain?”

Dari Layar Laptop, Muncul Beragam Perspektif

Selama proses penilaian, satu hal yang menarik perhatian saya adalah keberagaman cara peserta menerjemahkan tema.

Ada yang mengandalkan ilustrasi, ada yang bermain dengan tipografi, ada yang menggunakan simbol-simbol kebudayaan, dan ada pula yang mencoba menyampaikan pesan melalui komposisi visual yang sederhana tetapi kuat.

Di sinilah menariknya desain.

Satu tema bisa melahirkan banyak perspektif.

Peserta tidak hanya dituntut membuat poster yang “bagus”. Mereka harus mampu mengubah sebuah gagasan abstrak seperti kebinekaan dan harmoni menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dibaca, dan dirasakan oleh audiens.

Bagi saya sebagai juri, proses tersebut justru menjadi bagian paling menarik.

Karena ketika seorang pelajar mampu mengatakan sesuatu melalui visual tanpa harus menjelaskannya panjang lebar, di situlah komunikasi visual bekerja.

Bukan Cuma Estetik

Dalam dunia DKV, desain yang menarik secara visual memang penting. Tetapi desain yang bagus tidak berhenti pada persoalan warna, font, atau layout.

Poster harus berkomunikasi.

Karena itu, dalam penilaian saya bersama tim juri, terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian:

penyajian informatif dan akurat, kesesuaian tema, serta kreativitas desain.

Poster yang memiliki warna menarik tetapi pesannya membingungkan tentu belum cukup.

Sebaliknya, poster dengan pesan kuat juga perlu dikemas secara visual agar mampu menarik perhatian audiens.

Inilah tantangan yang sebenarnya.

Desain bukan hanya tentang “kelihatan keren”, tetapi tentang bagaimana sebuah pesan sampai kepada orang lain.

Ketika Kebinekaan Masuk ke Dunia Gen Z

Tema “Merajut Kebinekaan dalam Harmoni Madrasah” juga terasa relevan dengan kehidupan generasi muda hari ini.

Generasi Z hidup di tengah dunia yang sangat visual. Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital membuat informasi hadir dalam bentuk gambar, video, animasi, dan desain.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan membuat visual yang komunikatif menjadi semakin penting.

Namun ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting:

Apa pesan yang ingin disampaikan?

Teknologi hanyalah alat.

Aplikasi desain hanyalah media.

Yang membuat sebuah karya memiliki nilai adalah ide dan pesan di baliknya.

Karena itu, saya melihat lomba ini sebagai ruang bagi pelajar MA untuk belajar bahwa teknologi digital dapat digunakan bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menyampaikan gagasan positif.

Ada yang Berani Eksperimen, Ada yang Memilih Kesederhanaan

Salah satu hal yang saya nikmati selama menjadi juri adalah melihat keberanian peserta dalam bereksperimen.

Beberapa karya mencoba memainkan komposisi, tipografi, ilustrasi, hingga simbol-simbol visual. Ada pula peserta yang memilih pendekatan minimalis dengan elemen yang tidak terlalu banyak.

Keduanya bisa menjadi pendekatan yang menarik.

Dalam desain, lebih banyak elemen tidak otomatis membuat sebuah karya menjadi lebih baik.

Kadang sebuah visual sederhana justru memiliki daya komunikasi yang lebih kuat karena mata audiens tidak dibuat bingung.

Sebaliknya, desain yang kompleks juga bisa berhasil apabila setiap elemen memiliki alasan dan fungsi.

Jadi, pertanyaannya bukan:

“Desainnya ramai atau sederhana?”

Tetapi:

“Apakah setiap elemen yang digunakan membantu menyampaikan pesan?”

Pesan untuk Para Peserta

Untuk teman-teman peserta MADARIS CAMP FEST 2026, saya ingin menyampaikan satu hal.

Jangan takut mencoba.

Jangan terlalu terpaku pada template.

Jangan berpikir bahwa desain harus selalu mengikuti tren.

Tren memang penting untuk dipelajari, tetapi identitas dan ide pribadi jauh lebih penting untuk dikembangkan.

Kalau kalian tertarik dengan desain, teruslah belajar tentang komposisi, warna, tipografi, fotografi, ilustrasi, dan teknologi digital.

Tetapi jangan lupa belajar hal yang paling mendasar:

belajar mengamati.

Karena ide desain sering kali muncul bukan ketika kita membuka aplikasi desain, tetapi ketika kita melihat persoalan di sekitar kita.

Dari Kompetisi Menjadi Pengalaman

Pada akhirnya, sebuah perlombaan tidak hanya berbicara tentang juara satu, dua, atau tiga.

Ada pengalaman yang dibawa pulang.

Ada keberanian untuk menuangkan ide.

Ada kesempatan untuk menerima kritik.

Ada proses belajar dari karya peserta lain.

Dan ada satu hal yang menurut saya sangat penting bagi generasi muda:

berani menunjukkan karya.

MADARIS CAMP FEST 2026 memberikan ruang bagi pelajar MA di Kabupaten Magetan untuk melakukan itu.

Melalui sebuah poster, mereka tidak hanya sedang membuat gambar.

Mereka sedang mencoba menyampaikan bagaimana mereka melihat kebinekaan, persatuan, dan kehidupan harmonis di lingkungan madrasah.

Dan mungkin, dari layar laptop atau HP yang mereka gunakan untuk mendesain hari ini, akan lahir generasi kreator visual Magetan yang karya-karyanya kelak dapat berbicara jauh lebih luas.

Karena pada akhirnya,

Sebuah desain bukan hanya tentang apa yang dilihat mata, tetapi tentang pesan apa yang tertinggal di pikiran setelah kita melihatnya.

Bayu Pebrianto W.
Juri Lomba Desain Poster Digital
MADARIS CAMP FEST 2026 – Kementerian Agama Kabupaten Magetan
Andalan Kwarcab Magetan Bidang IT | Guru SMK Jurusan DKV

Pewarta: Pewarta Cikal

Editor: (pw)

View this post on Instagram

A post shared by bayu pw (@bayu.p.wicaksono)